jump to navigation

Ngobrolin Nasib, Sikap Skeptis dan Hal Metafisika.. 13 November, 2007

Posted by Sir Spitod in Contemplation, eXperience, Interes-Things, Schooling.
trackback

Hujan turun rintik-rintik…  beberapa temanku berharap hujannya supaya tambah deres. Kenapa? soalnya sekarang lagi mau pelajaran Olah Raga, dan dalam musim hujan yang penuh angin ini, enggak ada yang berminat. Kemalasan sedang merundungi kami..

Seorang temanku berkata, “Kalau hujan, ini berkah, kita tak akan Olah Raga. Semua hujan adalah berkah”.

Aku sedikit tergelitik, “Oh ya? lalu kenapa ada pawang hujan?”

Tak banyak respon, tapi seorang temanku yang lain tertawa.

“Eeh, kenapa ketawa?”

“Kenapa ada pawang hujan? bagiku perkataan itu lucu.”

“Apanya yang lucu?”

“Semua yang terjadi itu berkah!”

“Loh, bisa saja suatu kejadian itu sebuah hukuman atau cobaan, bukannya berkah”

“Semua kejadian juga cobaan”

“Kau benar. Tapi kan ada kejadian yang baik bagi seseorang, dan kejadian yang buruk bagi seseorang”

“Aku bukan dewa. Aku tidak tahu apa yang baik bagi diriku. Bisa saja yang kelihatannya baik tapi sebetulnya untukku itu buruk. Dan bisa juga yang buruk sebetulnya baik, atau membawa ke kebaikan yang lebih besar manfaatnya dari keburukan sesaat.”

Wah, kata-kata yang hebat. Prinsip ini dulu pernah saya baca, tapi masih belum sanggup saya laksanakan. Cukup kagum saya, dia bisa mengemukakan pendapatnya dengan baik.

“Hmm.. itu sikap yang bijak. Dan kau benar. Sepertinya penggunaan kata-kataku yang salah. Mungkin yang lebih tepat adalah, ada kejadian yang membuat orang sedih, dan ada yang memberi kebahagiaan.”

“Ya, itu aku setuju.”

 Kesepakatan telah dicapai. Dari perkataannya, temanku ini ternyata lebih dalam dari yang aku duga. Menarik, menarik..

Temanku ngobrol lagi, “Ngomongin pawang hujan, kamu tahu tidak kalau ancol itu pake pawang hujan. Disana siangnya enggak pernah hujan, cuma sore-sore aja. Pawang hujan tuh sebetulnya syirik, soalnya kebanyakan mereka pakai tenaga jin.”

“Kalau masalah itu sih aku enggak tahu, tapi aku enggak akan langsung menuduh para pawang hujan itu. Kurasa ada penjelasan yang ilmiah. Saya orangnya skeptis.”

“Apa itu skeptis?”

“Skeptis itu.. tidak mudah percaya terhadap kabar, kepercayaan, atau spekulasi kalau tidak ada bukti yang konkret dan tak terbantahkan.”

“Wah, gawat dong kalau begitu. Jadi bagaimana tentang Tuhan?”

“Saya berusaha memahami kejadian dengan yang bisa diterima logika. Logika itu jangkauannya hanyalah dalam hukum dunia ini. Untuk Tuhan yang diluar hukum dunia ini, pegangan saya Al Quran.”

“Ooh, bagus, bagus.”

“Masalah jin, katakanlah para pawang hujan itu menggunakan jin, bukankah Nabi Sulaiman as juga mempekerjakan jin?”

“Itu boleh. Karena Nabi Sulaiman as posisinya adalah master mereka. Sedangkan para pawang hujan itu memposisikan mereka dibawah para jin.”

“Ah, saya tidak tahu macam apa kontrak kerja jin begitu. Cukup dulu hal itu. Ada hal menarik lain?”

” Jin itu tak bisa dilihat karena berada di dimensi lain. Mereka berbentuk semacam energi. Roh itu juga semacam energi.”

“Kalau tidak salah, jin itu melihat dari arah yang tidak bisa kita lihat, itu yang aku tahu. Kalau energi.. rasanya kehidupan tidak bisa direduksikan menjadi energi. Ada yang lebih daripada itu. Saya tertarik. Darimana kau belajar hal-hal metafisika seperti ini?”

“Dari banyak membaca. Di internet juga banyak”

“Kalau dari internet seringkali banyak bohongnya”

“Memang perlu hati-hati, sih.. Makanya kau harus membaca yang banyak, supaya yang didapat gambaran umum.”

“Yah, tapi dipikir lagi saya malah takut ah, Al Quran saja saya belum khatam. Bukan dalam arti mengaji biasa, tapi memahami artinya. Pertahanan saya belum kokoh.”

Metafisika.. sebuah pseudoscience. Tampaknya lebih baik saya hindari dulu mempelajarinya. 

“Itu sih saya juga.”

Saat ini, kelas kami lagi dipanggil oleh dosen olah raga, mau diabsen. Tidak olah raga, yess..

Dalam perjalanan absen, temanku bicara lagi, “Kamu tahu, ada orang yang bilang bahwa  Tuhan adalah energi. Karena tak ada sebutan lain yang cocok.”

Aku agak kaget, “Ada sebutan yang untuk Tuhan, yaitu Al Dzat.”

“Apa itu Al Dzat”

” Ya.. tidak bisa dijelaskan. Bagaimana menjelaskan esensi Tuhan?”

Terus terang sih, aku enggak tahu banget juga tentang kata Al Dzat. Itu dari bahasa Arab, dan aku dulu baca di bukunya Karen Armstrong.. di buku itu disebutkan Al Dzat adalah kata untuk esensi Tuhan yang ilahiah dan tak terjangkau.

“Hmm”

Pembicaraan kami sampai disitu. Absensi sudah selesai, hujanyang semakin deras tampak mengancam, dan saya perlu cepat pulang ke kosan..

“Assalamu’aikum, lain kali ngobrol lagi”

“Wa’alaikumsalam”

*Tulisan ini bukan rekaman pembicaraan kami secara tepat. Beberapa selingan saya hapus, kosakatanya yang asli lebih “membumi”, dan saya mohon maaf kalau ada kesalahan.. Ini obrolan seminggu lalu, wajar kan.

Komentar»

1. Yari NK - 13 November, 2007

Sebenarnya mungkin semua yg terjadi di alam semesta ini dapat dijelaskan oleh logika, hanya saja ilmu manusia masih sangat sangat sangat sedikit, hingga masih banyak kejadian2 yang belum bisa dinalarkan oleh manusia. Bukan karena kejadian tersebut tidak masuk akal, tetapi akal manusia yang belum bisa mengikuti dengan baik kejadian2 tersebut. Yah, seperti kejadian2 metafisika tersebut.
Ilmu2 Allah sangat luas, yang walaupun ditulis dengan tinta sebanyak dua kali seluruh lautan di muka bumi ini, belum cukup untuk menuliskan keseluruhan ilmu Allah.

Btw, thx ya telah mampir di blogku.🙂

2. agorsiloku - 13 November, 2007

“Aku bukan dewa. Aku tidak tahu apa yang baik bagi diriku. Bisa saja yang kelihatannya baik tapi sebetulnya untukku itu buruk. Dan bisa juga yang buruk sebetulnya baik, atau membawa ke kebaikan yang lebih besar manfaatnya dari keburukan sesaat.”
—–
saya juga lupa tuh, tapi kalau nggak salah, itu ucapan nabi daud … tidak ada pengetahuan dan manfaat atau mudharat tanpa izin Tuhan… Kata sejenis disebar dalam berbagai ayat. memiliki nuansa yg dalam, bagaimana kita menyikapi karunia dan azab, bagaimana usaha dan menyikapi pasrah…
tapi omong-omong soal olah raga, badan kita juga perlu disedekahi…😉

3. Darth Spitod - 15 November, 2007

@Yari NK
Menurut saya, jin memang memiliki kekuatan, tapi tetaplah berlaku hukum-hukum awal. ada sebab, ada akibat.

Pak, saat saya ke blog bapak, ternyata postnya bagus-bagus..🙂

@agorsiloku
Itu adalah filosofi hidup yang sangat baik, selalu husnudzan pada Allah SWT😀

Olah Raga, memang baik, tapi cuaca saat itu membuatnya lebih mudharat daripada manfaat.😦

4. atmo4th - 16 November, 2007

al dzat?
the force kalau di star wars.
universe kalau di paham sekuler.

duh duh capek mikir yang gituan, otakku gak bakal nyampe.

5. Iwan - 19 November, 2007

Coba kutebak kamu bicara dengan siapa…
dengan A*i kan?
Omongannya berat banget… hehehe:mrgreen:

6. nindy - 28 Agustus, 2008

hahaaa
aku baru tau malah kalo skeptis itu artinya berasa bener sendiri(eh iya ga siyy??) hahaaa
abisnya aku tu brasa bego,, hahaa, ah yauda de apapun itu smga aku tambah pinter aja hhaa

7. zenudin - 28 November, 2008

ngomongin kaya gitu pasti ga da abiz ya.lebih baik pasrah ma yg kuasa.gitu aja ko repot.

8. skepter - 22 Februari, 2009

skeptis bukannya :
pupusnya suatu harapan dengan melihat kondisi kita yang terasa lebih buruk/jelek/timpang/kurang berhasil dari lingkungan sekitar kita yang jauh lebih baik? sehingga mengakibatkan hilangnya rasa optimisme yang seharusnya menjadi sifat manusia?

9. Informasi Skeptisme 2 Paragraf Saja « Abula45 | Pusat Informasi Digital - 25 Juni, 2009

[…] sikap skeptis merajalela. Maka sifat kebersamaan, gotong royong, bahu membahu, dan solidaritas (kemungkinan) akan […]

10. Esti - 29 September, 2010

Dialog yg menarik🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: