jump to navigation

Bagaimana Mengukur Kepintaran? 29 September, 2007

Posted by Sir Spitod in Contemplation, Essay-ish, eXperience, Personal.
trackback

 Berfikir.. bagaimana seseorang dapat disebut pintar, yang kadang notabene lebih  hebat dari orang lain?

Berbagi pengalaman, dahulu waktu SMA, sempat tercantol dalam satu hari ada dua ujian, matematika dan biologi. Wah, dua-duanya kan pelajaran kelas “berat”. Beberapa hari sebelumnya, saya bertanya pada teman saya(enggak tahu berhubungan atau enggak dengan topik ini, tapi dia cewek)

“Seminggu lagi ulangan matematik sama biologi nih.. Uuh.. dua-duanya penting lagi. Gimana ya cara menghadapinya?”

“Enggak tahu ya.. belajar aja. Kalau kamu memangnya kayak gimana strateginya?

“Hmm, kayaknya aku akan konsentrasi dulu belajar matematika, baru  sehari sebelum hari-H belajar biologi. Biar masih fresh hafalannya. Biologi suka cepet lupa.”

“Loh, bukannya kebalik? justru matematika itu yang gampang lupa! Kalau aku membaca biologi, aku bakalan ingat terus.”

“Berarti otakmu kebalikannya otakku, ya..”

Setelah hari ujian selesai, ternyata nilai matematika saya lebih tinggi dari dia, tapi saya kalah di biologi.

Sekarang, setelah saya pikir-pikir,  memang berbeda belajar matematika dengan biologi. Matematika biasanya dikatakan orang sebagai pelajaran “rumus”, tapi menurut saya rumus itu hanyalah kompilasi dari prosedur pemecahan. Dalam matematika, biasanya dalam soal itu itu ada yang sudah diketahui, dan ada yang ditanya. Berdasarkan informasi itu kita harus dapat menemukan nilai yang dicari, dan yang kita pelajari adalah prosedur pencarian tersebut. Maka bila saya belajar matematika, sebetulnya saya sedang memprogram otak saya dengan berbagai macam prosedur.

Sedangkan, dalam biologi hampir tidak ada yang namanya prosedur.  Biologi banyak berlandaskan pada keluasan pengetahuan kita. Sepanjang saya di SMA, pelajaran Biologi dominannya adalah menghafal. Maka kira-kira saya sedang menuliskan materi pada memori saya.

Sedikit berteori, mungkin otak saya lebih suitable untuk pemahaman prosedur, tapi daya ingat kurang. Sedangkan teman saya mudah menulis pada long term memory, tapi sulit memrogram prosedur matematik. Mana yang lebih baik? tergantung situasi..

Maka ukuran kepintaran otak manusia bukan seperti Core 2 duo> Pentium4> Pentium 3, tapi lebih kompleks lagi.

Kan kalau dalam komputer, kekuatan dapat dipengaruhi faktor-faktor:

  • CPU
  • BUS
  • Cache
  • RAM memory
  • Harddrive access speed
  • Video card
  • Harddisk
  • Interface pada hardware
  • dll

Komposisi faktor diatas di sebuah komputer biasanya berbeda-beda, dan komposisi itu menentukan komputer tersebut cocoknya melakukan pekerjaan apa.

Terus kalau otak? Wah saya bukan dokter tapi bukannya itu jauh lebih rumit lagi dari komputer? Pastinya faktor-faktornya luar biasa banyak, dan perbedaan itu membuat pendekatan kita juga berbeda-beda. Kemampuan dalam berbagai hal juga berbeda-beda. Kadang  kalau komposisi tersebut tepat akan suatu hal, maka kita akan menjadi seorang “natural” atau “berbakat” dalam hal tersebut. Tapi biasanya hal itu diikuti juga dengan kekurangan kemampuannya pada hal lain.

Aah, bosan dengan IQ! kapan yah bisa ada takaran yang lebih baik?

Komentar»

1. mathematicse - 1 Oktober, 2007

Gemana ya ngukurnya? Saya juga bingung. IQ hanya mengukur sebagian kecil kemampuan manusia, itu pun aspek kognitif saja. Aspek lain sangat terabaikan.

Bisa jadi IQ tinggi, tapi kecerdasan lain tidak.

Ah, memang manusia tidak tahu apa yang mereka tidak ketahui.😀

2. Spitod-san - 1 Oktober, 2007

“manusia tidak tahu apa yang mereka tidak ketahui”
ya iyalah..😀
saya pernah baca tentang multiple intellegence, tapi itu juga rasanya tidak sempurna.

3. atmo4th - 2 Oktober, 2007

Yang pasti gak ada manusia yang unggul di semua hal.

Kita cuma perlu pilih satu aja, apa yang kita suka dan kita anggap mudah.

Gitu sih kalau kata saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: