jump to navigation

Dilema Rp 5000 vs Nenek Tua 28 Agustus, 2007

Posted by Sir Spitod in Contemplation, eXperience, Inreligion, Personal.
trackback

Kemarin setelah selesai shalat di Salman, aku melintasi seorang nenek tua pengemis. Kelihatannya memelas sekali..

“Sudah lama aku tak bersedekah” pikirku. Tangan kiri masuk ke saku. Terasa selembar uang.. “Yah, seribu cukuplah..”

Uang itu kutarik keluar. Sebelumnya aku periksa dulu uangnya, udah jadi kebiasaan sih. OMG! Ternyata aku salah. Itu selembar lima ribuan.. 5x-nya jumlah yang mau kuberikan tadi. “Ini uang sekali makan!” pikirku. Sebagai anak kos, sekarang saya memang lebih.. “perhitungan” dengan uang. Jatah tiap bulan kan terbatas.

Ini dilema. Uang sudah terlanjur keluar tapi sekarang malah nyesel. Apa yang aku lakukan..?

=>

=>

=>

Aku masukkan lagi duit itu ke saku. Pelit? yaah.. bisa dibilang begitu. Tapi aku sadar juga, bahwa saat aku tahu berapa nilai yang aku hendak berikan, sudah muncul setitik rasa tidak ikhlas, tidak rela, melepaskan uang 5000 itu. Ini merupakan kesalahanku yang paling fatal. Memandangi apa yang akan hilang, memikirkan manfaatnya bila aku pakai sendiri.

Sedikit mengeluh, tapi kalau menurutku, banyaknya pengemis dan pengamen di Bandung dan terutama disekitar ITB mulai “menjengkelkan” . Saat awal-awal pindahan, saya masih suka memberi pada mereka, barang sedikit. Tapi kini: bosan. Saya bisa bertemu min.3 hingga 10 pengemis dan pengamen setiap harinya. Bila semua aku beri tentunya beberapa hari saja uang bulananku habis.. tentunya aku tak bisa bersedekah! Aargh! Aku takut miskin! Seperti mereka..

Lalu, bagaimana yang seharusnya aku lakukan? Rasanya setiap kali aku melewati para pengemis itu, hatiku terasa mengeras. Semakin lama aku menjadi terbiasa untuk mengacuhkan mereka. Aku jadi takut hilang kepedulian sosial. Tapi jelas, seperti yang aku utarakan tadi, engga mungkin bisa memberi mereka terus-terusan. Buat yang mengaku ustad blog, gimana niih..

Tapi biaya saya bikin post ini saja sudah menghabiskan uang 5000 itu, ya.. (warnet, ±1 jam) Waduh.. mungkin saya sudah menjadi seorang egomaniak..

Komentar»

1. agorsiloku - 28 Agustus, 2007

Memang ini masalah. Kalau tausyiah subuh, kerap kami membahas hal ini. Ada kemampuan yang akhirnya kita perlu punya pengemis yang menjadikannya sebagai profesi (dan ketika ia di rumahnya) maka ia tidak lebih miskin dari kita, tidak lebih kaya dari kita. Semua dari jerih payahnya menjual “kemiskinan”. Miskin hati, miskin jiwa. Sebagian lagi, memang miskin dan fakir.
Lalu bagaimana membedakannya?. Ya… susah juga, suasana hati menentukan juga. Cuma, saya sering membangun kriteria : tua, tak mampu lagi bekerja (meski masih bsa jalan), yah itu yang memenuhi kriteria. Anak muda, bawa anak, dan profesinya keliling (karena sering ditemui)… yah ini pilihan nomor sekian.
Namun, di antara seluruh pilihan. Jangan selalu lupakan minimum 2,5% dari uang kost yang diterima anggap saja (baca jadikanlah) hak kaum fakir miskin. Uang itu jangan dipakai warnet atau apa-apa, tapi carilah orang miskin/panti asuhan/ atau apa saja. Berikanlah hak itu. Insya Allah, hati tak akan pernah mengeras.
Di Jum’at, di mesjid Salman… kalau tak salah dulu… sering diperdengarkan agar jama’ah tidak memberi pelanggan-pelanggan kemiskinan yang menjadikan kemiskinan sebagai profesi. Tapi, memang sudah watak dan tidak adanya social security di negeri ini. Gaya hidup tampak miskin juga jadi trend.

2. Iwan - 29 Agustus, 2007

Ya, saya inget waktu itu anda sama saya kan??
Saya sependapat, makin banyak orang yang menjdikan minta-minta sebagai profesi..

Pengalaman paman saya:
Seorang anak kecil datang ke rumahnya dan minta uang, untuk membayar sekolah katanya. Tapi paman saya tidak serta merta memberi uang, beliau bilang, “Panggil orang tua kamu ke sini, nanti saya beri ongkos sekolah untuk kamu sampai lulus” Kemudian beliau memberinya ongkos naik angkot untuk pulang..

Tapi anak tersebut tidak kembali lagi. Jadi uang sekolah hanya dijadikan alasan untuk minta-minta?? Oh tidak… Inikah wajah bangsa kita??

3. alex - 29 Agustus, 2007

Ikuti kata hati saja. Kalo memang ada terasa yakin kamu nggak salah orang untuk memberi, beri saja sedekahnya. Karena pada akhirnya, yang tahu yang bohong itu siapa, cuma Allah…🙂

4. aRuL - 29 Agustus, 2007

kan ada aturannya (UU)

5. syafriadi - 29 Agustus, 2007

klo ga iklas mending ga usah…
berarti anda dengan iklas menulis blog😀
dan saya dengan iklasnya komen disini
lam kenal

6. Spitod-san - 29 Agustus, 2007

@agorsiloku
makasih, penjelasannya terasa back to basic, tapi mengena..🙂

@iwan
yaps.. pernah ngeliat anak kecil banget dah mengemis, dan rasanya gak mungkin dia “begitu saja”. Beli makanan aja aku rasa dia belum bisa..🙄

@alex
semoga sedekah kita sampai te tangan yang berhak😦

@aRul
UU cuma teks doang..
pemerintah harusnya serius memberantas kemiskinan.. dan kemalasan!

@syafriadi
Ikhlas ya.. sebuah state yang indah..

7. mathematicse - 29 Agustus, 2007

Wah, pengalamannya mirip-mirip saya dong. Saya juga sering begitu. Pernah ngasih, tangan masuk saku, langsung beri.

Eh,as diperiksa uang yang diberikan terlalu besar, dan uang itu saya perlukan (jadinya saya kelimpungan sendiri). Hahaha… jadi ga ikhlas deh… (tapi sudah telanjur, ya sudah deh…).😀

8. regsa - 29 Agustus, 2007

kunci ikhlas . Terserah pengemis itu pura2 miskin ato ngak . Jadi kalo ngak ikhlas ngak usah memberi….
just komen…;)

9. atmo4th - 30 Agustus, 2007

5000? Warnet dimana??? di kampus aja 1000 sejam, minjem komputer bisa gratis…

Sedekah? Ingat kondisi diri dulu, tapi inget semua yang kita berikan akan kembali ke kita sendiri.

10. madsyair - 8 September, 2007

Sedekah yang baik adalah memberikan yang terbaik. Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: