jump to navigation

Nilai Uang Bisa 0 Sampai oo(tak hingga) 16 Agustus, 2007

Posted by Sir Spitod in Contemplation, Interes-Things.
trackback

Baru tadi saya baca postingan pren saya si dante, dan jadi ingat kisah berikut. Walau mungkin terkesan seperti dongeng, tapi ini kisah nyata, lo. Hanya nama-namanya saya sudah lupa, jadi namanya tidak bisa saya sebutkan..

***

Alkisah, dahulu di negeri Cina ada seorang saudagar. Awalnya dia miskin, tapi berkat usaha dan kerja kerasnya dia merangkak dari kemiskinannya hingga berhasil menjadi kaya raya, bahkan dia adalah orang termakmur di negerinya. Tapi, tidak semuanya berjalan mulus..

Dia memiliki tiga anak,  dan suatu hari, anak yang kedua, si Tengah melakukan tindak kriminal.  Dia terlibat dalam sebuah perkelahian di bar dan akhirnya, dalam kondisi mabuk dan marah, dia membunuh lawan berkelahinya.  Tak lama setelah perkelahian itu terjadi, para penegak keamanan datang dan menangkapnya. Di pengadilan, diputuskan bahwa si Tengah bersalah dan akan dihukum gantung bulan depan.

Bapaknya yang saudagar, sebetulnya juga mengetahui kenakalan si Tengah, dan memang sudah  tak peduli bagaimana nasibnya. Tetapi, bila si Tengah dihukum dan dieksekusi, hal itu akan memalukan keluarganya yang terhormat. Karena itu dia memanggil si Bungsu. Bungsu disuruhnya mengambil uang sebanyak 100 juta dan pergi ke pendeta kuil untuk menyelamatkan kakaknya.

Si Sulung, yang kala itu mendengar percakapan ayah dan adiknya, tiba-tiba menyela.

“Ayah, bukankah hal seperti itu lebih merupakan tugasku sebagai anak tertua?”

“Sulung, memang secara tradisi kaulah yang lebih pantas untuk melakukan ini, tapi Bungsu lebih cocok untuk melakukannya.”

“Ayah, perkataanmu melukai kehormatanku. Ini adalah tanggung jawabku, dan kau meragukan kemampuanku melakukannya. Demi langit, jika kau tidak mau menugaskan aku, kau akan kehilangan satu lagi anak.”

“Baiklah kalau begitu. Sulung, lakukanlah!”

Lalu si Sulung, dengan membawa uang yang banyak tersebut, mendatangi kuil memberikannya kepada sang pendeta.

Sang pendeta menerimanya dan lalu mendatangi  raja. “Paduka, konstelasi langit sedang redup dan menunjukkan tanda-tanda tidak baik. Para dewa sedang marah. Saya harapkan agar bulan depan dipenuhi  dengan tobat para masyarakat dan pemohonan pengampunan atas  dosa-dosa kita. Bebaskan para tahanan,  Hiasi balai-balai dan adakan kunjungan kebaktian di kuil untuk menenangkan para dewa. Bila tidak saya takut murka para dewa akan menimpa kita.” Lalu sang raja, yang takut  akan azab dewa, setuju atas saran sang pendeta.

Kabarpun menyebar akan diadakannya acara tersebut, hingga si Sulung mendengarnya. Dan setelah dia mengetahuinya, dia lalu merasa bahwa adiknya Tengah sudah selamat. Raja telah menyatakan diadakannya acara itu. Tapi, dia lalu berpikir, bukankah titah sang rajalah yang menyelamatkan adiknya? bukan si pendeta yang melakukannya, dia hanya memberi saran, dan kebetulan sang raja menyetujuinya. Si pendeta tak pantas mendapatkan uang tersebut!

Sulung segera kembali ke kuil dan meminta kembali uang yang telah diberikannya ke pendeta. Si pendeta tidak berbicara apa-apa, dan langsung memberikan kembali uang tersebut.

Esoknya, si pendeta kembali pergi menemui raja.  “Paduka, saya mendengar desas-desus bahwa acara kebajikan bulan depan terkesan sebagai alasan untuk membebaskan si Tengah putra si saudagar kaya. Saya sarankan agar dia dipercepat hukumannya menjadi hari ini untuk menghilangkan opini tersebut.” Sang raja setuju.

Tengah dihukum mati.

Mendengar kejadian ini,  ayahnya tertawa.”Awalnya aku menyuruh si menyuruh si Bungsu yang lahir saat aku sudah kaya, hingga tak mengerti nilai uang. Sedangkan Sulung adalah anakku yang ikut menjalani masa-masa penuh derita dulu, menimbulkan kekikirannya yang membuat si Tengah mati. Memang inilah bagaimana dunia berjalan!”

***

Kita yang bisa makan cukup setiap hari, dapat bersekolah dan mengakses blog ini mungkin belum pernah  mengalami kemiskinan, tidaklah mengerti betapa berharganya seribu rupiah, di bandingkan dengan orang yang dahulu terlunta-lunta, mengais tempat sampah mencari sisa makanan. Karena itu, janganlah menilai pengelolaan keuangan seseorang dengan standar kita sendiri, kenali latarnya..

Komentar»

1. 9uBr4K5 - 17 Agustus, 2007

Makna kata “cukup” itu memang sangat subyektif ya…
😀

Salam kenal

Peace, Love `N Harmony !

2. mathematicse - 18 Agustus, 2007

Kisah yang menarik, banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita ini. Ada lagi kang cerita yang beginian? Saya suka lho cerita-cerita hikmah…😀

3. Dilema Rp 5000 vs Nenek Tua « Spitod’s Blog - 28 Agustus, 2007

[…] “Ini uang sekali makan!” pikirku. Sebagai anak kos, sekarang saya memang lebih.. “perhitungan” dengan uang. Jatah tiap bulan kan […]

4. mr_xkmn - 30 Juli, 2008

itu sih dari buku temenku bernama irsyad yang berjudul kartun riwayat peradaban 2

5. Irsyad - 30 Juli, 2008

seperti yang dikatan temanku tadi,sumbernya dari bukuku kan ini sih semua yang pernah baca “kartun riwayat peradaban” 2 udah tau!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: